ALKANA
A. Pengertian
alkana
Alkana
(juga disebut dengan parafin) adalah senyawa kimia hidrokarbon jenuh
asiklis. Alkana termasuk senyawa alifatik. Dengan kata
lain, alkana adalah sebuah rantai karbon panjang dengan
ikatan-ikatan tunggal. Rumus umum untuk alkana adalah CnH2n+2.
Alkana yang paling sederhana adalah metana dengan rumus CH4. Tidak ada batasan
berapa karbon yang dapat terikat bersama.
B. Keisomeran
Alkana
dengan 3 atom karbon atau lebih dapat disusun dengan banyak macam cara,
membentuk isomer struktur yang
berbeda-beda. Sebuah isomer sebagai sebuah bagian mirip dengan anagram
kimia tapi berbeda dengan anagram isomer dapat berisi jumlah komponen dan atom
yang berbeda-beda, sehingga sebuah senyawa kimia
dapat disusun berbeda-beda strukturnya membentuk kombinasi dan permutasi yang
beraneka ragam. Isomer paling sederhana dari sebuah alkana adalah ketika atom
karbonnya terpasang pada rantai tunggal tanpa ada cabang. Isomer ini disebut
dengan n-isomer (n untuk "normal", penulisannya
kadang-kadang tidak dibutuhkan). Meskipun begitu, rantai karbon dapat juga
bercabang di banyak letak. Kemungkinan jumlah isomer akan meningkat tajam
ketika jumlah atom karbonnya semakin besar.Contohnya:
- C1: tidak memiliki isomer: metana
- C2: tidak memiliki isomer: etana
- C3: tidak memiliki isomer: propana
- C4: 2 isomer: n-butana & isobutana
- C5: 3 isomer: pentana, isopentana, neopentana
- C6: 5 isomer: heksana, 2-Metilpentana, 3-Metilpentana, 2,3-Dimetilbutana & 2,2-Dimetilbutana
- C12: 355 isomer
- C32: 27.711.253.769 isomer
- C60: 22.158.734.535.770.411.074.184 isomer, banyak di antaranya tidak stabil.
C. Tata nama
1.
Rantai karbon lurus
Alkana
rantai karbon lurus biasanya dikenali dengan awalan n- (singkatan dari normal)
ketika tidak ada isomer.
Meskipun tidak diwajibkan, tapi penamaan ini penting karena alkana rantai lurus
dan rantai bercabang memiliki sifat yang berbeda. Misalnya n-heksana
atau 2- atau 3-metilpentana.
Anggota
dari rantai lurus ini adalah:
- Metana, CH4 - 1 karbon dan 4 hidrogen
- Etana, C2H6 - 2 karbon dan 6 hidrogen
- Propana, C3H8 - 3 karbon dan 8 hidrogen
- Butana, C4H10 - 4 karbon dan 10 hidrogen
- pentana, C5H12 - 5 karbon dan 12 hidrogen
- heksana, C6H14 - 6 carbon dan 14 hidrogen
Mulai
dengan jumlah karbon mulai dari lima diberi nama dengan imbuhan jumlah yang
ditentukan IUPAC
diakhiri dengan -ana. Contohnya antara lain adalah pentana, heksana, heptana, dan oktana.
2.
Rantai karbon bercabang
Model dari isopentana (nama umum) atau
2-metilbutana (nama sistematik IUPAC). Untuk memberi nama alkana dengan rantai
bercabang digunakan langkah-langkah berikut:
- Cari rantai atom karbon terpanjang
- Beri nomor pada rantai tersebut, dimulai dari ujung yang terdekat dengan cabang
- Beri nama pada cabang-cabangnya
Nama
alkana dimulai dengan nomor letak cabang, nama cabang, dan nama rantai utama.
Contohnya adalah 2,2,4-trimetilpentana
yang disebut juga isooktana. Rantai terpanjangnya
adalah pentana, dengan tiga buah cabang metil
(trimetil) pada karbon nomor 2, 2, dan 4.
D. Sifat-sifat
fisik alkana
Tabel alkana
|
Alkana
|
Rumus
|
Titik didih [°C]
|
Titik lebur [°C]
|
Massa jenis [g·cm3] (20 °C)
|
|
CH4
|
-162
|
-183
|
gas
|
|
|
C2H6
|
-89
|
-172
|
gas
|
|
|
C3H8
|
-42
|
-188
|
gas
|
|
|
C4H10
|
0
|
-138
|
gas
|
|
|
C5H12
|
36
|
-130
|
0.626
(cairan)
|
|
|
C6H14
|
69
|
-95
|
0.659
(cairan)
|
|
|
C7H16
|
98
|
-91
|
0.684
(cairan)
|
|
|
C8H18
|
126
|
-57
|
0.703
(cairan)
|
|
|
C9H20
|
151
|
-54
|
0.718
(cairan)
|
|
|
C10H22
|
174
|
-30
|
0.730
(cairan)
|
|
|
C11H24
|
196
|
-26
|
0.740
(cairan)
|
|
|
C12H26
|
216
|
-10
|
0.749
(cairan)
|
|
|
C20H42
|
343
|
37
|
padat
|
|
|
C30H62
|
450
|
66
|
padat
|
|
|
C40H82
|
525
|
82
|
padat
|
|
|
C50H102
|
575
|
91
|
padat
|
|
|
C60H122
|
625
|
100
|
padat
|
Senyawa
alkana mengalami gaya van der Waals
di antara molekul-molekulnya. Semakin besar gaya van der Waals di antara
molekul-molekulnya, maka semakin tinggi titik didihnya. Ada penentu lain untuk
menentukan berapa kekuatan gaya van der Waals:
- jumlah elektron yang mengelilingi molekul, yang jumlahnya akan meningkat seiring dengan berat molekul alkana
- luas permukaan molekul
Dengan
temperatur dan
tekanan standar, senyawa alkana dari CH4
sampai C4H10 berwujud gas; C5H12
sampai C17H36 berwujud cairan; dan C18H38
ke atas berwujud padat. Karena titik didih alkana ditentukan oleh beratnya,
maka bukanlah suatu hal yang aneh kalau titik didih alkana berbanding lurus
dengan massa
molekulnya. Titik didih alkana akan meningkat kira-kira
20–30 °C untuk setiap 1 atom karbon yang ditambahkan pada rantainya.
Alkana
rantai lurus akan memiliki titik didih yang lebih tinggi daripada alkana rantai
bercabang karena luas permukaan kontaknya lebih besar, maka gaya van der Waals
antar molekul juga lebih besar. Contohnya adalah isobutana (2-metilpropana) yang
titik didihnya -12 °C, dengan n-butana (butana), yang titik
didihnya 0 °C. Contoh lainnya adalah 2,2-dimetilbutana yang bertitik didih
50 °C dan 2,3-dimetilbutana bertitik didih 58 °C.[4] Hal ini disebabkan karena
2 molekul 2,3-dimetilbutana dapat saling berikatan lebih baik daripada 2,2
dimetilbutana yang berbentuk salib.
Konduktivitas dan kelarutan
Alkana
tidak menghasilkan listrik dan tidak dapat dipolarisasi oleh medan listrik. Untuk alasan ini mengapa
alkana tidak membentuk ikatan hidrogen dan tidak dapat bercampur
dengan pelarut polar seperti air. Kelarutan alkana pada pelarut nonpolar
lumayan baik, ciri-ciri yang dikenal dengan nama lipofilisitas.
Massa jenis alkana akan bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah atom
karbon, tapi tetap akan lebih rendah dari massa jenis air. Maka, alkana akan
berada di lapisan atas jika dicampur dengan air.
E. Sifat-sifat kimia alkana
Secara
umum, alkana adalah senyawa yang reaktivitasnya rendah, karena ikatan C antar
atomnya relatif stabil dan tidak mudah dipisahkan. Tidak seperti kebanyakan
senyawa organik lainnya, senyawa ini tidak memiliki gugus fungsional. Senyawa alkana bereaksi
sangat lemah dengan senyawa polar atau senyawa ion lainnya. Konstanta
disosiasi asam (pKa) dari semua alkana nilainya diatas
60, yang berarti sulit untuk bereaksi dengan asam maupun basa (lihat karbanion). Pada minyak bumi, molekul-molekul alkana yang
terkandung di dalamnya tidak mengalami perubahan sifat sama sekali selama
jutaan tahun.
1. Reaksi dengan oksigen (reaksi pembakaran)
Semua
alkana dapat bereaksi dengan oksigen pada reaksi pembakaran, meskipun pada alkana-alkana
suku tinggi reaksi akan semakin sulit untuk dilakukan seiring dengan jumlah
atom karbon yang bertambah. Rumus umum pembakaran adalah:
CnH2n+2
+ (1.5n+0.5)O2 → (n+1)H2O + nCO2
Ketika jumlah
oksigen tidak cukup banyak, maka dapat juga membentuk karbon monoksida, seperti pada reaksi
berikut ini:Contoh reaksi, metana:
2CH4
+ 3O2 → 2CO + 4H2O
CH4
+ 1.5O2 → CO + 2H2O
2. Reaksi dengan halogen
Reaksi
antara alkana dengan halogen disebut dengan
reaksi "halogenasi radikal bebas". Atom hidrogen pada alkana akan
secara bertahap digantikan oleh atom-atom halogen. Radikal bebas adalah senyawa yang ikut
berpartisipasi dalam reaksi, biasanya menjadi campuran pada produk. Reaksi
halogenasi merupakan reaksi eksotermik dan dapat
menimbulkan ledakan.
Reaksi
ini sangat penting pada industri untuk menghalogenasi hidrokarbon. Ada 3 tahap:
- Inisiasi: radikal halogen terbentuk melalui homolisis. Biasanya, diperlukan energi dalam bentuk panas atau cahaya.
- Reaksi rantai atau Propagasi: radikal halogen akan mengabstrak hidrogen dari alkana untuk membentuk radikal alkil.
- Terminasi rantai: tahap dimana radikal-radikal bergabung.
3. Isomerisasi dan reformasi
Isomerisasi
dan reformasi ada proses pemanasan yang mengubah bentuk alkana rantai lurus
dengan adanya katalis platinum. Pada
isomerisasi, alkana rantai lurus menjadi alkana rantai bercabang. Pada
reformasi, alkana rantai lurus berubah menjadi sikloalkana atau hidrokarbon
aromatik, dengan hidrogen sebagai produk sampingan. Kedua proses ini
akan meningkatkan bilangan oktan
pada senyawa yang dihasilkan.
4. Reaksi lainnya
Alkana
akan bereaksi dengan uap dengan bantuan katalis berupa nikel.
Alkana juga dapat melalui proses klorosulfonasi
dan nitrasi
meskipun membutuhkan kondisi khusus. Fermentasi
alkana menjadi asam karboksilat
juga dapat dilakukan dengan beberapa teknik khusus. Pada Reaksi
reed, sulfur dioksida,
klorin dan cahaya mengubah hidrokarbon menjadi sulfonil
klorida. Abstraksi
nukleofilik dapat digunakan untuk memisahkan alkana dari logam.
Gugus alkil daris sebuah senyawa dapat dipindahkan ke senyawa lainnya dengan
reaksi transmetalasi.
F. Wujud Alkana
- Semua alkana tidak berwarna dan memiliki bau yang khas.
- Alkana rantai pendek (C1 sampai C4) berupa gas, rantai sedang (C3 sampai C17) berupa cairan dan jika lebih panjang berbentuk padatan.
- Titik didih alkana meningkat seiring kenaikan berat molekul. Hal ini dikarenakan meningkatnya gaya van der Waals sebanding dengan kenaikan berat molekul.
- Cabang alkana menyebabkan penurunan luas permukaan yang mengakibatkan penurunan gaya van der Waals. Itulah sebabnya titik didih pentana > isopentana > neopentana
- Titik leleh alkana tidak menunjukkan keteraturan. Alkana dengan jumlah atom karbon genap memiliki titik leleh lebih tinggi dibandingkan yang mempunyai jumlah atom karbon ganjil.
6.
Kecenderungan abnormal pada titik
leleh mungkin karena alkana dengan atom karbon ganjil memiliki atom karbon di
sisi berlawanan. Jadi alkana dengan atom karbon genap dapat dikemas erat dalam
kisi kristal membuat gaya tarik antarmolekul menjadi lebih besar.
G. Kegunaan alkana
Sebagai :
• Bahan bakar
• Pelarut
• Sumber hidrogen
• Pelumas
• Bahan baku untuk senyawa
organik lain
• Bahan baku industri
Dikatakan
bahwa masa jenis alkana lebih kecil dari air dan apabila dicampurkan larutan
alkana akan berada diatas air,bagaimana jika larutan alkana dicampurkan kedalam
larutan garam yang elektrolit?
Permasalahan
Dalam
oksigen berlebih, alkana dapat terbakar menghasilkan kalor, karbon dioksida dan
uap air, Mengapa demikian ? Seperti Gas propana yang digunakan
sebagai bahan bakar yang disebut LPG (liquified
petroleum gas),yang sekarang lagi marak di masyarakat, jika gas
propana tersebut terus terbakar dan menghasilkan kalor seperti fakta diatas bagaimana pengaruhnya dengan senyawa-senyawa
lainnya yang terdapat dialam akibat pembakaran tersebut?